24.1 C
Jakarta
Minggu, November 28, 2021

Potensi Radikalisme di Kampus, Brigjen Hamli: Mencegah Lebih Baik Dari Mengobati

BPET MUI — Fenomena penangkapan seorang dosen dari salah satu perguruan tinggi yang menyembunyikan bom di rumahnya menjadi bukti penyebaran paham radikal-teroris tidak hanya menyasar kalangan mahasiswa, tetapi juga kalangan dosen.

“Sekarang ini hampir semua elemen telah kena, polisi, TNI, dosen apalagi mahasiswa. Ini jangan sampai terjadi,” ungkap Wakil Ketua Pelaksana Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme MUI.

Ragam upaya yang dilakukan oleh pemerintah ke beberapa kampus merupakan bagian dari progam kontra radikalisasi, narasi dan ideologi. Program tersebut yang dilakukan di kampus bukan untuk menghakimi kampus tertentu, tetapi upaya mencegah dan melibatkan civitas akademika yang belum terpapar paham radikal agar menangkal penyebarannya di kampusnya.

“Kampus yang disasar pemerintah tidak selamanya terindikasi pergerakan radikalisme dan terorisme, tapi ini bagian dari upaya mencegah, karena lebih baik mencegah daripada mengobati atau sebelum terjadi. Faktanya di lapangan, ada seorang dosen yang tertangkap karena membuat bom,” kata Hamli yang juga pernah menjabat sebagai Direktur Pencegahan BNPT.

Menurut Hamli, seluruh insan kampus harus mengetahui beberapa pola dan modus yang dilakukan oleh kelompok radikal dalam menyebarkan paham di lingkungan kampus. Pola-pola yang digunakan bisa sangat beragam, tetapi hampir memiliki modus yang sama.

Ada beberapa jalur yang biasa mereka manfaatkan sebagai metode perekrutan anggota baru semisal kajian kerohanian yang tertutup dan mentoring keagamaan yang ekslusif. Modus yang lain mereka juga menawarkan tempat tinggal dan kos gratis dengan syarat mengikuti kajian mereka, mendampingi mahasiswa baru dan mengarahkan pada kelompok diskusi tertentu.

Seluruh pola dan modus di atas, menurut Hamli, harus diwaspadai di semua level kebijakan kampus baik rektorat, UKM, maupun mahasiswa. Pihak kampus harus segera menyadari bahwa keberadaan kelompok ini adalah nyata di beberapa kampus dan apabila tidak diberikan penanganan khusus bisa berkembang dengan leluasa.

Baca Juga :   Najih Arromadloni: Mencegah Intoleransi Sama Dengan Mencegah Radikalisme-Terorisme
Baca Juga :   Radikalisme di Tengah Pandemi, Makmun Rasyid: Kita Tetap Harus Waspada

“Ada salah satu kampus di Jawa Timur yang 70 persen mahasiswanya bersumber dari sumber yang terindikasi. Dari SMA-nya, pondok pesantrennya, mereka sudah terpapar,” tegasnya.

Temuan radikalisme di lingkungan kampus, masih kata Hamli, memang bukan hal baru. Pada tahun 1983 pihaknya pernah melakukan pengamatan dan menemukan adanya aktifitas keagamaan di salah satu masjid di lingkungan kampus yang berlangsung hingga pukul 03.00 dini hari.

“Ini seharusnya menjadi perhatian kampus. Kenapa sampai ada aktifitas di masjid kampus sampai jam tiga pagi? Pencegahan bisa diawali dari kecurigaan-kecurigaan atas hal-hal yang janggal,” tuturnya.

Lebih lancet ia mengingatkan pentingnya keterlibatan civitas academica dan lingkungan sekitar kampus dalam pencegahan terorisme. Hal itu diakuinya akan menjadi sebuah sinergi nyata dalam upaya penanggulangan terorisme.

Hard approach, pendekatan keras dalam penanggulangan sebenarnya tidak perlu dilakukan. Penanggulangan terorisme akan efektif jika dilakukan dengan cara soft approach, dan itu membutuhkan keterlibatan masyarakat,” tutupnya. [MR]

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

22,043FansSuka
3,027PengikutMengikuti
PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles