24.1 C
Jakarta
Minggu, November 28, 2021

PPATK: Pendanaan Terorisme Naik Dari Tahun ke Tahun

BPET MUI Pusat —Upaya pembertasan terorisme harus disertai dengan kebijakan pelacakan dana kelompok radikal-teroris secara paralel. Pendanaan merupakan “aliran darah” yang menghidupi aktivitas dan pergerakan kelompok radikal-teroris. Hal ini ditegaskan Kepala PPATK Dian Ediana Rae, pada saat diskusi daring bertajuk “Modus Donasi dalam Pendanaan Teror di Era Covid-19” yang dilakukan BPET MUI Pusat, Jum’at (13/8/21).

“Upaya kita melakukan pemberantasan tindak pidana terorisme maupun pendanaan terorisme itu dilakukan secara paralel. Karena memang ini salah satu petunjuk secara global yang diberikan juga oleh PBB, upaya-upaya pemberantasan terorisme itu tidak bisa dipisahkan dari upaya memberantas pendanaan terorisme. Ini merupakan suatu prinsip-prinsip baru yang dikembangkan, bahwa ketika memberantas kejahatan terorisme, maka harus diberantas pendanaan terorismenya karena ini merupakan suatu, bisa dikatakan aliran darah yang bisa menghidupi kegiatan terorisme,” ungkap Dian.

Dian menambahkan bahwa pola berpikir kelompok teroris kini dan dulu berbeda. Yang menyamakan adalah bentuk kerusakannya yaitu merugikan dirinya dan orang lain. Tapi pengaruh ideologi yang dianutnya membuat mereka rela melakukan tujuan dan tindakan apapun yang bertentangan dengan agama.

“Ideologi tentu adanya di hati dan kepala kita, ini tantangan yang terbesar saya kira yang kita hadapi karena membubarkan organisasi itu tidak serta merta menghilangkan sebetulnya ideologi para pengikutnya. Sekarang dengan ideologi, persoalan seperti ini tidak mudah sehingga kita perlu melakukan langkah-langkah yang komprehensif secara politis, secara sosial, secara ekonomi, yang memang memerlukan kerja sama kita semua,” ujarnya.

Dian menyampaikan juga bahwa laporan yang diterima PPATK terutama dari perbankan, laporan transaksi keuangan mencurigakan yang diberitahu kepada kami cukup lumayan besar dari tahun ke tahun. Misalnya pada tahun 2016, tercatat ada 340 laporan. Tapi pada tahun 2020 sudah mencapai angka 1.122. Ada peningkatan yang signifikan.

Baca Juga :   Upaya Membendung Radikalisme, Kiai Pesantren Tidak Diragukan Perannya

“Ini laporan transaksi keuangan yang terkait dengan masalah pendanaan terorisme di dalam perkembangannya bukan mundur, tetapi berkembang secara signifikan. Hal ini merupakan suatu pertanda bahwa memang persoalan-persoalan yang terkait dengan terorisme dan pendanaan terorisme, di Indonesia bisa dikatakan masih cukup serius,” jelasnya.

Baca Juga :   Najih Arromadloni: Mencegah Intoleransi Sama Dengan Mencegah Radikalisme-Terorisme

Di tengah pandemi seperti saat ini, Dia menyampaikan bahwa kondisi ini bisa dikatakan memberikan peluang organisasi/kelompok teroris melakukan konsolidasi dan memperluas wilayah operasi mereka di saat pemerintah fokus pada penanganan Covid-19.

“Berbagai bentuk kegiatan yang dapat dilakukan organisasi terorisme di antaranya melakukan propaganda radikalisme dan upaya rekruitmen melalui media sosial, penghimpunan dana melalui media sosial dengan narasi yang kami catat sebagai berikut, bantuan kemanusiaan untuk bencana alam di Indonesia, bantuan kemanusiaan bagi masyarakat yang menderita Covid-19, bantuan keluarga teroris dan narapidana terorisme, kemudian bantuan kemanusiaan untuk korban-korban di negara dan wilayah konflik di luar negeri seperti di Suriah, Palestina dan sebagainya. Juga dukungan secara eksplisit kegiatan khilafah,” tutupnya. [EL]

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

22,043FansSuka
3,027PengikutMengikuti
PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles